Merinding! Makna Lagu Turi Putih Ternyata....

Pertama kali mimin denger lagu ini pada saat acara Kecamatan Bersholawat, bertema dakwah islam dan budaya. Mimin terharu coz saat itu banyak anak muda yang sangat terampil memainkan marawis dan ada beberapa yang membawakan lagu turi putih.

Awalnya mimin nggk ngarti dari lagu tersebut. Pertama, menggunakan bahasa jawa lembut, kedua, sangat filosofis. Untung di acara inti -pengajian- sang kyai menuturkan makna yang tersirat dalam lirik turi putih. Mimin langsung merinding. Ternyata lagu seenak itu menceritakan......

Syair tersebut peninggalan wali songo. Banyak yang berbeda pendapat, ada dari Sunan Kalijaga dan ada yang Sunan Giri. Mimin saat itu belum lahir, Sob, jadi tidak tau tepatnya siapa hihi. Tapi yang jelas peninggalan wali songo, penyebar agama islam di pulau jawa. Ini udah jelas, nggk usah diperdebatkan.

Setiap baitnya sangat simpel, tapi sarat akan makna dan filosofis yang mendalam. Bercerita, bahwa manusia itu semua akan mengalami kematian. Lalu kita ini di dunia mau apa? Bekal apa yang sudah disiapkan? Oke... biar Sobat SR  tidak penasaran mimin yang baik hati dan rajin menabung ini akan review... cekedot. ;)

"Turi Putih, Turi Putih..."


Seperti dilansir mbah wiki. Turi merupakan pohon yang berkayu lunak dan berumur pendek. Tingginya dapat mencapai 5-12m. Akarnya berbintil-bintil dan berguna untuk menyuburkan tanah. Bunganya besar dan keluar dari rantingnya. Bunganya apabila mekar, seperti kupu-kupu. Bentuknya sabit berwarna putih, layaknya mayit. Sedangkan dalam bahas jawa  bisa diartika "tak aturi" (sini saya beritahu).

PUTIH diidentikan dengan kain kafan, pocongan.

Jadi, walaupun mempunyai akal pikiran jenius, jabatan, memberikan manfaat bagi masyarat sekitar "sini saya beritahu" kita hanya berumur pendek suatu saat akan dibungkus oleh kain kafan seperti bunga turi yang masih mengincup.

"Ditandur ning kebon agung..."

(Ditanam di kebon agung)

Kebon agung ialah makam. Semua orang jika mau memasuki makam biasanya menghormati, mengagungi. Menjaga etika.

"Ono cleret tibo nyemplung..."
(ada sambaran kilat yang jatuh ke bawah)


Kilat itu cepat, ini menggambarkan manusia itu di dunia hanya singgah saja. Ibarat perjalanan, kita hanya mampir di warung untuk minum dan memperbanyak bekal sehingga di jalan tidak kehausan. Tanpa sadar, terlalu enjoy di warung tiba-tiba sudah jatuh ke bawah (lubang kubur).

"mbok iro kembange opo?"
(ibu kamu bunganya apa?)

Jika menyangkut kata "ibu" kita akan ditujukan pada sesuatu hal yang utama di antara beberapa hal lain atau yang terpenting, seperti ibu kota (pusat kota), ibu jari, dll.

Yang terutama dalam hidup ialah amal sholeh kita, ini yang terpenting untuk bekal nanti. Dan bunga identik dengan keindahan. Jadi, maksud dari baris pada lirik ini yaitu "apa buah dari amalanmu di dunia?"

Kesimpulan semuanya yaitu usia manusia itu sangat singkat seperti pohon turi kemudian akan dibungkus kain kafan putih. Walau punya rumah mewah tapi jika sudah maut menjemput, kediaman terakhirnya ialah makam, kebun agung. Tanpa melihat sedang apa dan dimana ajal pasti menjemput seperti kilatan petir, tiba-tiba jatuh ke bawah lubang kubur lalu ditanya oleh malaikat kubur tentang amalan kita di dunia.

Sudah jelas? Nahh... jadi sekarang jangan sekedar menyanyikan atau mendengarkan tapi ikut menghayati, merenungi. Mimin klo denger lagu itu lagi langung merinding, sob, cos amalan mimin yang sangat sedikit. Nanti nasib di akhirat mimin seperti apa? :'( :'(

Jangan lupa klik tombol share di bawah yahhh... :) :)